|
|
27 November 2013 (USA) |
| Country |
USA |
|
|
|
|
|
Adventure | Animation | Comedy | Family | Fantasy | Musical |
Sinopsis
Tahun 2013 sebenarnya bukan tahun yang menyedihkan bagi film animasi. Mike dan Sulley kembali dalam Monsters University, Gru dan para Minion pada Despicable Me 2, dan juga The Croods
bersama tampilan visualnya yang indah. Namun tidak ada satupun dari
karya Hollywood itu yang berhasil mengukuhkan dirinya sebagai front
runners untuk meraih status terbaik tahun ini. Penantian itu telah
berakhir, Frozen (so far) adalah film animasi terbaik tahun ini, kemasan klasik yang sederhana, ringan, cerdas, dan indah. Adorable.
Anna
(Kristen Bell), anak perempuan berusia lima tahun dengan penuh semangat
naik ke atas ranjang kakaknya yang berusia tiga tahun lebih tua, Elsa
(Idina Menzel). Keinginan Anna sederhana, ingin menghabiskan waktu
bersama, bersenang-senang di ruangan istana dengan bermain salju hasil
kekuatan sihir yang dimiliki Elsa. Namun karena terlalu enerjik dan
lepas kendali satu kecelakaan terjadi, hanya terjatuh memang, namun
ternyata sihir yang dapat merubah segala sesuatu menjadi es itu tepat
mengenai kepala Anna. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan nyawa
Anna, dengan menghapus semua memori kelam dari ingatannya.
Akibat
insiden itu pula, dan juga sebagai upaya perlindungan, Elsa terpaksa
harus terus berada dalam satu ruangan dan di asingkan dari dunia luar,
termasuk Anna. Hal tersebut menyebabkan ketika dewasa disaat ia hendak
dinobatkan sebagai ratu kerajaan Arendelle, rasa asing, cemas, dan takut
pada diri Elsa mulai pecah. Berawal dari sebuah kejutan yang bersumber
dari Hans (Santino Fontana), Elsa mulai lepas kendali, lari kehutan, dan
meninggalkan kerajaan bersama bencana musim dingin dadakan, hal yang
kemudian memaksa Anna untuk bergerak menemukannya, bersama dua teman
barunya Kristoff (Jonathan Groff) dan Olaf (Josh Gad).

Sejujurnya selalu masih ada sedikit rasa kesal dan kecewa pada kegagalan
Wreck-It Ralph meraih singgasana tertinggi pada kategori film animasi
di Oscar tahun ini, sampai hari ini. Ya, sampai hari ini, karena Frozen
mengobati rasa kesal tersebut, sebuah kemasan milik Disney yang
berhasil menutup kelemahan yang menjadi penyebab kegagalan kemasan kokoh
dan menawan yang mereka miliki tahun lalu itu dalam meraih singgasana
tertinggi Oscar: pesan utama yang harus fokus dan intim, serta karakter
yang ikonik dan dapat menjadi pahlawan serta idola baru. Frozen seperti
menggabungkan Tangledbersama alur gerak cepat milik Wreck-It Ralph, yang
kemudian ditemani karakter dan konflik dengan tipikal Disney klasik
layaknya Beauty and the Beast.
Chris Buck dan Jennifer Lee sejak
awal memang terkesan memilih bermain aman tanpa berupaya keras untuk
menciptakan identitas baru yang kuat bagi film ini, mereka hanya
melakukan modifikasi pada pattern dan formula yang sudah pernah Disney
lakukan, yang celakanya justru memberikan dampak yang manis. Cerita yang
mereka tulis ulang bersama Shane Morris dari buku berjudul The Snow
Queenkarya Hans Christian Andersen ini bahkan dibentuk dengan cara
konvensional, teknik bercerita yang familiar bahkan terkesan kuno, namun
sentuhan memikat dan efektif di banyak bagian kemudian menjadikan
berbagai hal klasik dan sederhana berubah menjadi sebuah kesatuan penuh
makna dan rasa gembira.
Frozen
adalah film animasi yang berani, dan cerdas. Secara mengejutkan ia
mendorong unsur musikal ke baris terdepan, dimana Disney yang sudah
identik dengan warna cerita pop kini muncul dengan nafasbroadway yang
elegan, menghadirkan beberapa perbincangan antar karakter layaknya
panggung teatrikal seperti yang dilakukan oleh Les Misérables, penuh
lirik yang catchy, jenaka, pintar, namun tetap berada dalam struktur
yang rapi berkat kinerja memikat dari Kristen Anderson-Lopez dan Robert
Lopez. Kokoh, ia tidak hanya berhasil menjadi arena buat para karakter
berekspresi, namun juga membuat penontonnya merasa semakin dekat dengan
mereka, ikut menikmati irama ketika lagu muncul, mencintai karakter,
menaruh simpati, hingga ingin mereka berhasil ketika kejutan lain
muncul.

Frozen penuh kejutan klasik yang dibentuk dengan manis. Ini bukan
sebatas kisah tentang si baik melawan si jahat, bahkan tidak ada tokoh
antagonis utama dalam cerita, Frozen sengaja dibiarkan bergerak bebas
bersama kejahatan yang disuntikkan dalam bentuk personal, menghadirkan
proses pembelajaran dari karakter untuk tumbuh dan menemukan jati diri
mereka, well, seperti Brave. Semua dibentuk dalam sentuhan yang detail,
tetap ringan, namun selalu terkontrol, dimana anda diajak
bersenang-senang namun tetap ingat fokus utama dari konflik yang ia
tawarkan. Hebatnya ia tidak rumit, sangat mudah di ikuti serta tidak
membebani penontonnya, dimana isu persaudaraan dan cinta sejati tetap
dikemas seperti sebuah dongeng anak-anak yang menjadi ciri khas Disney,
indah dan sederhana.
Memang di beberapa titik sedikit kurang
intens, namun Chris Buck dan Jennifer Lee tahu bagaimana memainkan
momentum untuk menciptakan dinamika yang menarik pada alur cerita yang
sejak awal terus bergerak halus. Akan ada kesan dimana cerita bergerak
mondar-mandir, dan berjalan sedikit terburu-buru, namun secara kesatuan
utuh ini solid. Tidak ada alur di sengaja yang konyol dan tidak berguna,
Frozen tahu bagaimana cara yang tepat dan efektif untuk sedikit menjadi
konyol dan lucu tanpa akhirnya terkesan menjengkelkan dan overdo.
Bahkan sedikit paksaan dan pergeseran fokus yang ia suntikkan juga
diselipkan dengan rapi dan implisit sehingga tidak mengganggu, dan tetap
tidak kehilangan cengkeraman kompleksitas emosional dari karakter
sehingga menciptakan kedalaman yang memikat, unsur yang sebenarnya
kurang begitu menjadi ciri Disney, fast & fun.
Tampilan
visual merupakan kekuatan lainnya. Dalam tiga kata: cerah, meriah,
indah. Dari butiran dan badai salju, permainan es, hingga bangunan dan
kostum dari para karakter, memikat. Mereka bukan hanya sebatas eye candy
yang berupaya menggoda penontonnya, namun juga menambah kekayaan dari
nyawa dan nafas cerita karena diolah dengan cantik dan detail. Saya
sangat suka pada ekspresi dari karakter, mereka tidak sederhana,
movement yang kompleks namun tetap tampak nyata, apalagi setelah
berkombinasi dengan score karya Christophe Beck yang juga cantik. Yang
mencuri perhatian di bagian ini justru adalah sajian pendek pembuka,
kartun tradisional hitam putih Mickey Mouse berjudul Get A Horse yang
masih diisi oleh suara Walt Disney, keren.
Departemen vokal
tidak kalah impresif. Tidak ada nama besar diantara mereka, karena
Frozen ingin benar-benar mendapatkan kualitas vocal yang kokoh untuk
memikat penonton ketimbang menggunakan reputasi para aktor untuk meraih
atensi sesaat. Konsep panggung teatrikal broadway berhasil dieksekusi
dengan baik, Idina Menzel tampil cemerlang dan kuat, menjadikan Let It
Go, yang walaupun kurang begitu powerfull layaknya A Whole New World
bahkan I See The Light milik Tangled, berhasil menemani disaat
bersenandung. Josh Gad juga mampu memanfaatkan bagiannya, baik itu pada
eksekusi In Summer, juga membentuk Olaf menjadi sangat menghibur tanpa
menjadi menjengkelkan. Namun yang paling mengejutkan adalah performa
Kristen Bell, surprise.

Overall, Frozen
adalah film yang memuaskan. Frozen adalah sebuah karya penuh materi
klasik yang dimodifikasi dengan gemilang. Masih dengan konsep fast &
fun, penuh tampilan visual yang eye candy, meriah dan indah, diiringi
musik catchy dengan sentuhan lirik yang cerdas, alur cerita yang ringan
dan tidak sulit untuk diikuti, namun tetap mampu menghadirkan kehangatan
dari pesan utama dengan tema cinta dan keluarga. Setidaknya untuk saat
Disney aman berada di posisi terdepan, dan akan menjadi sesuatu yang
sangat sangat mengejutkan jika kasus Wreck-It Ralph (yang imo lebih baik
ketimbangBrave) tahun lalu terulang kembali, dan harus jatuh ditangan
salah satu animasi Hollywood sebelumnya. Well done Disney!
Trailer
Link Download
DVDSCR 720p MKV
Subtitle Indonesia